Connect with us

EKONOMI

Gubernur Sulsel : Beri saya Bukti dan Waktu untuk Mempelajari, Sebab Semua itu Membutuhkan Kajian

Published

on

Radarnkri.com, Makassar – Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Prof Dr H.M. Nurdin Abdullah menyatakan, tidak mudah menata aset tanah Pemprov Sulsel yang juga adalah aset negara, terutama yang masih bermasalah.

“Beri saya bukti dan waktu untuk mempelajari, sebab semua itu membutuhkan kajian. Setelah itu barulah diselesaikan permasalahan aset negara tersebut,” ujar Gubernur.

Hal itu dikemukakan Gubernur Nurdin Abdullah di Makassar, Senin, saat dikonfirmasi Pers tentang lahan yang dikuasai dan dipergunakan Pemprov Sulsel seluas sekitar lima hektare di Jalan Daeng Ngeppe kawasan Rumah Sakit Haji yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht) di tingkat Peninjauan Kembali (PK) Mahkamah Agung, 14 tahun lalu, namun Pemprov belum menentukan sikap menyerahkan aset itu atau membayar ganti rugi kepada pemilik sah.

“Saya tidak bisa menjawab langsung permasalahan ini, sebab membutuhkan kajian, tidak semudah yang masyarakat pikirkan dalam penyelesaian aset negara,” katanya.

Menurut kuasa ahli waris, H. Syamsir Ali SH, lahan milik almarhum Djondjo Aru Barru itu kini telah dipergunakan Pemprov Sulsel dengan membangun Rumah Sakit (RS) Haji, Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, serta rumah dinas peternakan.

Semua gugatan kami terhadap kasus sengketa tanah melawan tergugat Pemprov Sulsel cq Gubernur Sulsel dkk, kami menangkan sejak di tingkat Pengadilan Negeri, banding di Pengadilan Tinggi, Kasasi di Mahkamah Agung hingga Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung dengan putusan No.219 PK/Pdt/2005 sebagai perkara berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Isi putusan itu menindak lanjuti putusan Pengadilan Tinggi Makassar nomor : 166/PDT/2002/PT MKS dalam pokok perkara yang menyatakan “Menghukum tergugat untuk meninggalkan dan mengosongkan tanah obyek sengketa dan selanjutnya menyerahkan kepada penggugat dalam keadaan kosong dan sempurna atau membayar sesuai harga sekarang kepada para penggugat,” ujar Syamsir.

Pada tahun 2010, lanjutnya, atas perintah Ketua Pengadilan Negeri / Niaga Makassar akan menjual lelang obyek tanah sengketa yang telah dimenangkan oleh penggugat. Namun Pemprov memohon penundaan dan akan melaksanakan putusan MA.

Penundaan lelang dilakukan sambil menunggu termohon eksekusi yakni Pemprov Sulsel melakukan proses penyelesaian ganti rugi secara sukarela yang dituangkan dalam surat kepada Kepala Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Makassar nomor : W22.UI/2651/HPDT/IX/2010, tanggal 23 September 2010.

Kenyataannya, lanjutnya, hingga kini proses ganti-rugi tersebut belum dilakukan.

Dalam Pemerintahan Gubernur Nurdin Abdullah, kami sangat berharap putusan inkracht ini terselesaikan dengan baik, karena Gubernur saat ini terus melakukan penataan terhadap semua aset tanah Pemprov Sulsel.

Aset tanah Pemprov yang dikelola oleh pihak ketiga atau yang selama ini bermasalah mulai dikembalikan ke Pemprov atau dipasangkan papan bicara agar khalayak mengetahui dengan jelas kepemilikan tanah sambil memprosesnya secara baik.

Nah, kalau aset Pemprov Sulsel di tata dengan baik, maka Gubernur Nurdin Abdullah juga diyakini akan menata dan mengembalikan atau mengganti rugi tanah milik perorangan yang digunakan oleh Pemprov sehingga tidak akan ada kejadian tanah yang diklaim milik pemprov dipasangi police line karena dieksekusi sesuai putusan inkracht.

Berdasarkan keyakinan itu, kata Syamsir, pada tanggal 25 Juni 2019, kami telah menyurat ke Gubernur Sulsel memohon pengembalian hak kepemilikan tanah tersebut dan kami yakini walaupun surat tersebut belum dijawab dan masih dalam kajian namun kami optimistis akan dilakukan penyelesaian secara baik.

Penulis : Fred Kuen
Editor : Mitha MK

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKONOMI

Yuk Mampir di Bakso Enak Ada di Warung Mas To’ing

Published

on

Radarnkri.com, GOWA – Warung Mas To’ing mungkin tidak asing lagi ditelinga masyarakat Kabupaten Gowa terkhusus kecamatan Somba Opu

Warung makan serba ada ini berada di jalan Kacong Daeng Lalang – Gowa, Wartawan dari GoWa-MO langsung mengunjungi dan bertemu langsung dengan pendirinya, Heri Purnomo (45), Sabtu (5/10/2019)

Tempat makan ini menyediakan menu berbagai varian, bahkan semua menu makanan khas Jawa ada ditempat ini

Heri pun menceritakan awal mula mendirikan warung makan serba ada ini,
“Awalnya pada tahun 1997 saya jualan bakso menggunakan gerobak keliling di sekitar Jl Bandang dengan brand Bakso Total” katanya.

Kala itu, hanyalah bakso tanpa pangsit yang dijualnya dengan harga Rp 500 perak permangkuk.

Saat jualan gerobak, lelaki asal Solo Jawa Tengah ini mengaku baksonya terbilang cukup laris. Hingga akhirnya ia memutuskan membuka usaha sendiri dengan modal tabungan selama 3 tahun jadi penjual bakso gerobak keliling

“Tiga tahun setelah jualan gerobak saya hijrah ke kabupaten Gowa, buka di jalan Kacong Dg Lalang tidak jauh dari tempat sekarang dengan kontrak dulu,” ujarnya.

Tidak tanggung-tanggung tiga tahun kemudian sejak buka warung Bakso Mas To’ing laris manis. Berkat konsistensi rasa dan pelayanan yang ramah, dirinya membeli ruko yang sekarang ditempati dan berubah nama Warung Mas To’ing bukan lagi Bakso Mas To’ing tetapi menu andalannya tetap Bakso Mas To’ing,”tutur Heri

Nama Mas To’ing pun terinspirasi dari panggilan akrabnya sendiri saat masih kecil, saat masih jadi pengembala di kampungnya,”kenangnya

Tahun ini buka cabang di Pasar Rewa A’Kio Ri GoWa-MO kawasan Wisata Kuliner bilangan Jalan Tumanurung Sungguminasa. Buat pelanggan dan sahabat mas To’ing bisa menikmati bakso kesukaannya ditempat itu sambil menikmati suasana santai dengan live music,”ucapnya

 

Laporan : Herman T

Editor Jufri

Continue Reading

EKONOMI

Petani Kentang Dataran Tinggi Sulit Mendapatkan Bibit, TRK Buat Aksi

Published

on

Radarnkri.com, MALINO — Budidaya kentang bisa menjadi inspirasi petani yang tinggal di dataran tinggi Malino Tinggi Moncong. Hal ini dikarenakan, kentang bisa tumbuh dengan subur pada wilayah yang beriklim sejuk seperti di Dataran Tinggi Malino , Sabtu 05 Oktober 2019 di Kelurahan Pattapang, Kec. Tinggi Moncong Kab. Gowa.

Ceo Rumah Kreatif Herman Nompo ST mengatakan bahwa dengan adanya program kreatif, yang dari awal kita melakukan pertama adalah penambak ikan nila air tawar.

Dalam artian keramba apung yang kita lakukan di Desa Pabentengang, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa. Kami juga memberdayakan petani bersama dengan karang taruna sebagai team pengelola dan setelah itu kami beranjak lagi ke dataran tinggi Malino untuk membentuk sebuah Green House.

“Pembuatan Green House ini kami lakukan dengan proses hasil kerjasama radarekspres.com dengan Team Rumah Kreatif (TRK)

Olehnya itu, kata dia. Karena dengan melihat kondisi para petani dan penangkar kentang sangat membutuhkan Green House untuk lebih meningkatkan produksi mereka di bidang pertanian kentang.

Sehingga bisa menunjang ekonomi masyarakat maka dengan adanya program program kreatif ini insya Allah ke depan melihat sektor-sektor atau melihat potensi-potensi daerah yang bisa dikembangkan kami akan siap untuk mengambil alih.” katanya

Kedepannya untuk Green House dataran tinggi akan menambah dan lebih mengoptimalkan untuk bisa memberdayakan petani petani yang lainnya sehingga bisa merata dalam program ini.” Terang Herman sambil tersenyum.

Di Tambahkan Ekhy yang juga Ceo TRK mengatakan dirinya menciptakan Green House ini dalam rangka mensejahterahkan para petani Tinggi moncong.

Sementara Ramli R. (40 thn) secara singkat mengucapkan terima kasih atas dukungan dan perhatian Team Rumah Kreatif (TRK) bagi kami penangkar atau petani kentang.

“Saya sangat bersyukur karena dengan adanya bantuan dari Team Rumah Kreatif (TRK) sangat membantu, Agar masyarakat tidak kesulitan lagi untuk mendapatkan bibit.” katanya.

Setelah melihat kondisi bangunan ini
sudah rampung 60% dan ini sangat membantu petani dalam pengadaan kultur jaringan menghasilkan bibit GNOL.” tuturnya.

Saya berharap kerjasama kedepannya lebih ditingkatkan dan masyarakat lebih merasakan bantuan dari Tim Rumah Kreatif (TRK) dengan berbagai terobosan lagi, ” tutup Ramli penangkar bibit kentang. (Jufri/Radarnkri.com)

Continue Reading

EKONOMI

Gubernur Sulsel : Minta Bappeda Sulsel tidak Memotong Anggaran Rutin

Published

on

Radarnkri.com, Makassar – Gubernur Sulawesi Selatan Prof HM Nurdin Abdullah menegaskan serapan anggaran tahun 2020 di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulsel dipastikan tidak lagi berasas keinginan namun berdasar kebutuhan masing-masing instansi.

“Serapan anggaran kita rendah, itu diakibatkan apa coba? Karena kita membuat rencana sesuai keinginan bukan sesuai kebutuhan. Jadi saya minta perencanaan anggaran kita 2020 tidak lagi berasas sesuai keinginan tetapi sesuai kebutuhan,” tegas Prof Nurdin Abdullah saat memberikan arahan kepada seluruh ASN lingkup Pemprov Sulsel pada acara Upacara Hari Kesaktian Pancasila, Selasa (1/10/2019).

Olehnya itu, Gubernur Sulsel kedua yang bergelar profesor ini mengaku sudah menyampaikan kepada Bappeda Sulsel agar tidak memotong anggaran rutin di semua instansi lingkup Pemprov Sulsel.

“Makanya saya minta Bappeda yang pertama apa yang diperlukan kita, jangan sampai anggaran rutin kita dipotong sana-sini akhirnya organisasi kita tidak jalan, itu harus dulu tuh. Berapa kebutuhan kita anggaran rutin,” jelas mantan Bupati Bantaeng dua periode ini.

Meskipun efisien anggaran harus dilakukan demi meningkatkan belanja modal yang ada di masing-masing instansi sesuai kebutuhan program.

“Kedua adalah, kita efisiensi supaya kita bisa meningkatkan belanja modal kita. Jadi tidak lagi kita ambil dulu anggarannya baru kita pikirkan apa yang kita mau bikin, oleh karena itu saya kira rutinkan semua dulu yang penting itu udah terpenuhi baru anggaran ini mau kemana untuk apa ini goll apa? Baru kita bagi anggaran ini siapa yang kira-kira memiliki sebuah program yang menjadi program utama kita,” jelasnya.

Gubernur Sulsel, menyampaikan juga agar seluruh OPD Pemprov Sulsel membangun sinergi antara seluruh elemen termasuk kepala dinas dengan sekertaris, kepala bidang dan seluruh unsur-unsurnya.

“Jadi yang tidak ada sinergi jangan harap akan dapat anggaran bukan berarti kita sudah kiamat karena kita masih ada di Kementerian, karena masing-masing punya Kementerian bangun sinergi dengan DPRD, karena DPRD ini punya fraksi yang ada di DPR RI dan partai-partai ini punya menteri-menteri di kabinet,” tegas mantan Sekjen Apkasi Indonesia ini.

“Saya kira ini, supaya jangan hanya berpikir APBD kita bagaimana menghabiskan, bukan, apa yang mau dihasilkan nah tentu program efisiensi kita bukan berarti kita harus yang kita tadinya minum teh pakai gula, pakai susu, sekarang nggak boleh pakai susu bukan, ini harus tersedia karena menyangkut gizi kita, tetapi apa yang kita merencanakan suatu apa yang kita butuhkan iya sama ibu-ibu habis terima TPP (Tunjangan Penghasilan Pegawai) jangan pergi ke Mal,” pungkasnya.

 

Laporan : Safri R.P                                          Editor      : Jufri

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 DKA Research Center. PoweredBy RadarNKRI.com