Paradigma Pendidikan ditengah Pandemi Covid-19

Makassar -RadarNkri.com – Oleh : Ardina, Hajrah, Ismail, dan Risma Apriani
Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah
Universitas Negeri Makassar

Ditengah maraknya masa pandemi yang menyerang berbagai belahan dunia menimbulkan dampak besar bagi kehidupan bermasyarakat. Tak terkecuali di dunia pendidikan. Meski demikian, pengaruh serta peran penting pendidikan selama kehadiran covid-19 tidak dapat diruntuhkan.

Pendidikan masih dijunjung tinggi sebagai pondasi kokoh bagi setiap manusia. Perubahan wujud pengaplikasian proses pendidikan dari tatap muka ke daring (dalam jaringan) tidak menghancurkan semangat para pendidik untuk tetap memberikan yang terbaik bagi para peserta didiknya. Mengingat bahwa pendidikan merupakan fundamental bagi para generasi bangsa, pendidikan adalah salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan potensi serta mencerdaskan bangsa. Seperti yang telah ditetapkan, tujuan pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 ayat 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional merupakan upaya dalam mengembangkan kemampuan peserta didik agar menjadi pribadi yang beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Jenis-jenis serta fungsi dalam dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan. Dalam pendidikan, terbagi atas tiga jenis yakni pendidikan formal (SD,SMP,SMA,Perguruan Tinggi), Informal (Keluarga), dan nonformal(Masyarakat/pendidikan diluar sekolah).

Sedangkan berbicara mengenai fungsi dari pendidikan tidak terlepas dari pendidikan sebagai memanusiakan manusia. Nah, teori mengenai memanusiakan manusia muda atau dikenal dengan istilah homonisasi dan humanisasi merupakan sebuah rumusan filsafat pendidikan Driyarkara. Homonisasi dan humanisasi merupakan suatu proses dalam memanusiakan manusia muda. Mengapa hanya manusia muda saja?seperti yang telah diketahui bersama, manusia muda adalah manusia yang memiliki batas awal dan batas akhir usia. Seperti halnya pendidika menurut Driyarkara mendidik merupakan proses membentuk manusia muda agar menjadi komponen yang utuh dan menjadi sebuah integrasi. Dalam prosesnya, manusia dapat mencapai perkembangan lebih jauh, merealisasikan dirinya dalam laju ilmu pengetahuan dan budaya.

Terdapat beberapa perbedaan dalam proses pendidikan paradigma baru dan paradigma lama. Pada paradigma lama,menekankan peranan siswa yang aktif dalam belajar dibandingkan guru yang mengajar. Namun, upaya-upaya tersebut tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan. Jika guru menekankan pendekatan mengajar yang sama persis (berlandaskan pengalaman mengajar) sistem pembelajaran yang biasanya telah mengalami perombakan (proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum), kemungkinan tujuan-tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan dari siswa tidak tercapai.

Sedangkan dalam Pendidikan dengan era paradigma baru membangun potensi masyarakat yang terdidik, pola pemikiran masyarakat berintelektual, mau atau tidak harus ada perubahan paradigma dan sistem pendidikan dengan model baru. Keformalan dan kelegalitasan masih menjadi bagian yang penting, tapi perlu diingat bahwa substansi bukan sesuatu yang bisa diabaikan jika hanya untuk mengejar tatanan keformalan. Untuk saat ini yang dapat dilakukan bukan meniadakan keformalitasan yang telah berjalan sejak lama tetapi menata ulang sistem pendidikan dengan menggunakan sistem lebih baik dengan kata lain penggunaan paradigma baru.

Dengan paradigma baru, praktik pembelajaran akan digeser menjadi pembelajaran yang lebih bertumpuk pada teori kognitif dan konstruktivistik (Hasna, 2012: 113). Menurut Kamdi, proses belajar bisa terfokus apabila pengembangan pola pikir intelektual secara sosial, inovatif dan kultural, yang mampu mendorong siswa membangun pola pemahaman secara alamiah dengan pengetahuan sendiri dalam konteks sosial budaya, dan belajar dimulai sejak awal pengetahuan dan prespektif budaya lokal. Roda pembelajaran dengan desain diharapkan menantang dan juga menarik untuk mencapai pengolahan pemikiran tingkat intelektual.
Pendidikan dengan menggunakan paradigma baru di Indonesia akan menjadi lebih baik bergantung pada cara konsep manusia dengan tujuan hidup dan menganalisis tantangan zaman sekarang.

Menurut Mastuhu, manusia merupakan makhluk yang dapat melampaui makhluk lainnya sesama, karena manusia memiliki tiga sifat utama yang tidak dimiliki oleh makhluk lain: a) kesadaran b) kebebasan, dan c) berpikir dan berkreasu. Pada era globalisasi sekarang Indonesia melakukan transformasi dalam proses pendidikannya, dengan menciptakan sistem pendidikan yang lebih inovatif, komprehensif dan fleksibel, sehingga para alumni lembaga pendidikan dapat difungsikan secara efektif dalam masyarakat global yang demokratis (Hasna, 2012: 134).
Selanjutnya untuk mencapai kefektifitasan hasil belajar peserta didik, baik saat belajar di sekolah maupun belajar di rumah seperti sekarang ini. Maka tugas pendidik adalah dengan menciptakan ketiga ranah penting (kognitif, psikomotorik, dan afektif) yang diharapkan dapat tetap diterapkan secara efektif dalam proses pembelajarannya. Ranah kognitif menyangkut hal yang berhubungan dengan kegiatan mental berpikir peserta didik (intelektual). Ranah psikomotorik lebih berorientasi kepada hal tindakan atau reaksi atau perilaku yang dilakukan peserta didik.

Sedangkan, ranah afektif lebih merujuk kepada perasaan, tingkat emosi, serta tinggi rendahnya variasi penerimaan dan penolakan terhadap suatu hal. Bentuk pembelajaran dirumah yang diharapkan tetap berada dijalurnya adalah bentuk pembelajaran yang tetap menjunjung tinggi nilai pendidikan di dalamnya, meskipun tidak secara langsung namun diharapkan dapat membentuk karakter diri peserta didik yang tidak melenceng dari proses pembelajaran secara langsung. Pemberian tugas yang terlalu banyak dan tidak dipahami siswa serta terkesan menjadi beban yang berlebihan bagi para peserta didik diharapkan dapat diminimalisir oleh pendidik atau pengajar.

Agar beberapa kasus negatif yang masih bertemakan pembelajaran daring tidak mencapai angka yang melonjak drastis. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi yakni seorang bocah yang meninggal karena meminum racun akibat stress menjalani sekolah online. Hal tersebut perlu dijadikan sebagai cermin untuk membenahi lebih baik lagi tentang pembelajaran daring, agar minat serta keefetifitasan dalam belajar tetap dapat dipertahankan keektensistensiannya.

Dalam pengajaran, pelatihan, dan pembimbingan yang ada di sekolah dan di rumah tentu memiliki perbedaan. Perbedaan antara pengajaran, pelatihan dan pembimbubgan di sekolah dan rumah yaitu :
Perbedaan pengajaran di sekolah dan di rumah
Pengajaran dari sekolah lebih didominasi oleh ide dan gagasan-gagasan suatu teori. Pengajaran dalam sekolah lazim kita temukan didalam ruangan dengan fasilitas yang memumpuni.

Sedangkan pengajaran didalam rumah cenderung tidak memiliki jadwal yang menjadi suatu ketentuan yang paten. Juga fasilitas kadang tidak memungkinkan.
Perbedaan pelatihan di sekolah dan di rumah
Pelatihan dari sekolah merupakan uji coba atau dikenal sebagai praktek lapangan untuk menguji dan melatih teori dan analisis dalam praktek. Pelatihan dari sekolah memakai mekanisme-mekanisme yang terstruktur dan sistematis untuk menggali potensi diri dan optimal.

Pelatihan dari rumah cenderung memakai metode yang bebas. Artinya media yang digunakan relatif berubah. Namun pelatihan dari rumah lebih unggul dari segi pendalaman sebab tidak memakai ukuran waktu tenggat pelatihan.
Perbedaan pembimbingan di sekolah dan di rumah
Bimbingan dari sekolah memakai sistem studi fokus untuk menggali potensi objektif dari kemampuan pelajar. Bimbingan dari sekolah lazimnya digunakan setelah uji praktek dari siswa, sehingga kemampuan pelajar mampu diukur sebagai tonggak objek yang akan menjadi kemampuannya nanti.

Bimbingan dari rumah dilakukan oleh orangtua dan juga keluarga lainnya. Kelebihan dan kekurangan dari bimbingan belajar rumah yaitu penekanan cenderung tidak ada sebagai intervensi terhadap diri yang berimbas pada kesehatan mental pelajar. Namun kekurangannya ada pada lingkungan yang tidak terlalu memahami potensi dari kelebihan seorang pelajar.

Dari pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, antara manusia dan pendidikan keduanya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu, sebagai manusia yang berhomonisasi dan berhumanisasi maka memiliki sebuah pendidikan yang layak dan tinggi adalah hal yang penting untuk ditempuh dan diusahakan. Dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang telah disiapkan oleh pemerintah seperti Bidikmisi dan beasiswa.

(Red) RadarNkri

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *