Opini Publik Terkait Covid-19 dan Dampak UMKM Di Tinggimoncong

RadarNkri.com | Pandemi virus Corona sampai saat ini belum diketahui sampai kapan berakhir, ini menjadi tantangan multidimensi. Pemerintah dan masyarakat dihadapkan pada berbagai keputusan sulit baik itu di sektor kesehatan, sosial, ekonomi, maupun politik.

Untuk merekam perspektif masyarakat terkait kondisi krisis Covid-19 di Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Gowa, Kecamatan Tinggimoncong Herman Nompo ST,.SH.,MT selaku Pembina Media Online Radarnkri.com melakukan penelitian bersama mengenai tema tersebut.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat opini publik tentang krisis Corona pada umumnya dan bagaimana penggunaan media di masyarakat dapat mempengaruhi terbentuknya persepsi tentang krisis. Terkait adanya Perkap Polri tentang pelarangan berkumpul dan penutupan tempat usaha tanpa memikirkan dampak krisis ekonomi masyarakat

Herman Nompo memberikan sebuah opini publik dimana opini-opini ini adalah bagian dari mencoba untuk mengurai permasalahan yang selama ini menerpa bukan cuman kami tetapi hampir segenap seluruh pelosok dunia dan penjuru di negara ini merasakan dampak tersebut.

Dengan adanya inisiatif kami mencoba untuk meramu bahwasanya penyelesaian di dalam sebuah permasalahan yang menjadi sebuah fenomena sehingga terkadang bertolak belakang dengan adanya himbauan terkaitnya adanya PSBB melakukan penutupan penutupan tempat usaha.

“Terkadang mengurangi durasi orang untuk melakukan perkumpulan khususnya di daerah tinggimoncong dimana pokok dari penghasilan masyarakat di sini adalah sebagian besar UMKM yang bergerak di bidang pariwisata termasuk salah satunya adalah penyewaan Villa atau tempat penginapan dimana orang sering melakukan perkumpulan.

Kami coba melihat bahwasanya ekonomi yang terpuruk dengan ini sebuah fenomena juga menjadi mengusik setelah keluarnya kebijakan dan tidak adanya lagi sebuah perkumpulan atau orang-orang yang bisa masuk ke dalam.

Warga tinggimoncong yang mayoritas pelaku UMKM atau usaha adalah sebahagian besar pelaku yang bergerak di penyewaan wisma atau Hotel.

Maka dengan ini kami mencoba memasukkan sebuah pemikiran seyogyanya dapat melihat fenomena yang harus beriringan, bagaimana cara memutuskan virus covid-19 ini dengan beriringan bagaimana perekonomian masyarakat itu tetap berjalan karena kami yakin di dalam tubuh yang sehat adalah tubuh yang mapan dalam segala jenis baik dari pasukan makanan baik dari pasukan mental dan itu tidak terlepas dari sebuah perekonomian yang harus stabil.

Dengan ini kami sempat beberapa dekade memikirkan dan inilah yang kami akan melakukan sebuah simulasi atau penyampaian.

“Selama ini penyampaian dilakukan dari pemerintah ke masyarakat Sekarang saatnya masyarakat ke masyarakat khususnya cuman pemerintah memberikan edukasi langsung kepada pelaku UMKM yang mayoritas di tinggimoncong.

Sehingga pelaku UMKM ini yang skala prioritas dan mayoritas di daerah tinggimoncong untuk turut serta berperan memutuskan penyebaran covid-19 di daerah tinggimoncong dengan jalan Bagaimana semua pelaku usaha memberikan himbauan atau memasang spanduk dengan foto mereka di tempat usaha masing-masing dengan gaya bahasa daerah dengan tema,” Memutuskan Mata Rantai Covid-19.

Tahapan kegiatan serbuan teritorial antara lain disiplin menerapkan 3M Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak dan upaya untuk implementasi dilapangan

Pelaku usaha secara tidak langsung akan merasa malu sendiri apabila di spanduk terpasang setiap pengusaha menerapkan protokol Kesehatan.

Menurut Herman Nompo, Covid-19 merupakan material kecil yang dibungkus oleh protein dan lemak, dengan mencuci tangan menggunakan sabun dapat melarutkan virus hingga hancur dan mati. Cuci tangan sesering mungkin terutama sebelum menyentuh mata, hidung, dan mulut.

Olehnya itu, Pelaku usaha wajib menyiapkan tempat cuci tangan di setiap tempat usaha, sehingga Sebelum masuk harus cuci tangan lebih dulu baru masuk ke Villa atau Toko.

Seperti yang diketahui menjaga jarak dapat mengurangi risiko tertular dan menularkan, caranya dengan menghindari kerumunan, tidak bersentuhan atau berjabat tangan, hindari transportasi yang tidak memenuhi standar protokol kesehatan, kurangi aktivitas dalam ruang tertutup dan banyak orang lebih dari 2 jam.

Hal- hal seperti inilah yang perlu di terapkan oleh pelaku Usaha UMKM di tinggimoncong agar usahanya tetap berjalan tanpa adanya penutupan sehingga ekonomi masyarakat tetap bisa berjalan.

(Red)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *